PROPOSAL
Penelitian Penerapan Metode Diskusi
Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa SD Kelas V
Disusun
guna untuk memenuhi tugas uts mata kuliah
“
Metode Penelitian Pendidikan “
Dosen
pengampu :
NIK
HARIYANTI, M.Pd.I

Disusun
oleh :
MOHAMAD
SAHRUL MUHAROM
(
2014114010080 )
PAI
V-B
INSTITUT
AGAMA ISLAM
PANGERAN
DIPONEGORO ( IAI PD )
Kel.
Kramat, Kec. Nganjuk, Kab. Nganjuk Jawa Timur
Kode
Pos : 64419, Indonesia
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta hidayahNya. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah
pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Pada kesempatan ini Alhamdulillah saya telah
menyelesaikan tugas pembuatan proposal mata kuliah Metode Penelitian
Pendidikan yang di bimbing oleh Ibu NIK HARIYANTI, M.Pd.I. Dalam proposal
ini akan kami sajikan beberapa hal yang terkait dengan Penerapan Metode Diskusi Untuk
Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa SD Kelas V.
Kritik dan saran kami harapkan untuk perbaikan proposal selanjutnya. Semoga proposal ini bermanfaat khususnya bagi
penyusun dan umumnya bagi pembaca sekalian.
Nganjuk, 16 Nopember 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul...........................................................................................................i
Kata pengantar.........................................................................................................ii
Daftar isi.................................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
1
B. Rumusan
Masalah
3
C. Tujuan
Penelitian
3
D. Manfaat
Penelitian
4
BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teoretis
5
B. Ilmu
Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
9
C. Keaktifan
Belajar
12
D. Hasil Belajar
13
E. Kajian
Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan
15
F. Kerangka Berfikir
15
G.Perumusan Hipotesis
16
H.Metode
Penelitian
16
I. Perencanaan
Siklus/Rencana Tindakan
20
J. Pelaksanaan
siklus/Pelaksanaan tindakan
21
K. Observasi
dan Evaluasi
21
L. Refleksi
21
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sistem
pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak perubahan.
Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha
pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan nasional semakin
mengalami kemajuan, pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan
perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu terjadi karena terdorong
adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaranpun guru selalu ingin
menemukan metode dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi
semua siswa. Bahkan secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam
sistem pendidikan nasional yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan
di bidang pendidikan nasional barulah ada artinya apabila dalam pendidikan
dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang
sedang membangun.
Tujuan
pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian melalui pendidikan diharapkan
dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi maupun masyarakat, serta mampu
menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan professional.
Untuk tercapainya tujuan Pendidikan Nasional tersebut, telah
ditempuh berbagai upaya oleh pemerintah. Upaya-upaya tersebut hampir mencakup
seluruh komponen pendidikan seperti pengadaan buku-buku pelajaran, peningkatan
kualitas guru, proses pembelajaran, pembaharuan kurikulum, serta usaha lainnya
yang berkaitan dengan kualitas pendidikan.
Dewasa, ini telah terjadi pergeseran pola sistem mengajar
yaitu dari guru yang mendominasi kelas menjadi guru sebagai fasilitator dalam
proses pembelajaran. Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, guru
harus menciptakan kondisi belajar yang aktif dan kreatif. Kegiatan pembelajaran
harus menantang, mendorong eksplorasi member pengalaman sukses, dan
mengembangkan kecakapan berfikir siswa (Dimyati, 2006:116).
Penggunaan media dan metode pembelajaran yang dipilih guru
merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas pembelajaran. Hamalik (2001:32)
juga menyatakan bahwa, “untuk lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi
antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran, di sekolah perlu
digunakan metode dan teknik pembelajaran yang tepat”.
Berdasarkan pendapat teersebut di atas dapat disimpulkan
bahwa kualitas pembelajaran akan meningkat jika guru mampu menciptakan kondisi
belajar yang aktif, kreatif, dan mengefektifkan komunikasi interaksi guru dan
siswa menggunakan metode diskusi dengan media pembelajaran yang tepat.
Namun, kenyataan menunjukkan bahwa penerapan metode diskuis
dan penggunaan media belum tampak diterapkan secara optimal. Hal ini
ditunjukkan oleh tindakan guru pada saat mengajar. Guru hanya menggunakan buku
pegangan yang ada dan hanya mengandalkan metode ceramah, tanpa menggunakan
media yang sesuai dengan materi. Akibatnya keaktifan, partisipasi, dan hasil
belajar siswa menjadi rendah.
Keaktifan dan hasil belajar siswa yang rendah, khususnya
pada mata pelajaran IPS merupakan permasalahan yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran. Permasalahan dalam kegaiatan pembelajaran dapat ditinjau dari
beberapa aspek. Ditinjau dari aspek siswa, yang mempengaruhi hasil belajar
muncul dari factor internal dan eksternal. Menurut (Dimyati, 2006:200) “faktor
internal siswa meliputi sikap terhadap belajar, motivasi berprestasi,
konsentrasi belajar, mengolah bahan belajar, menyimpan perolehan hasil belajar,
menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi, kebiasaan belajar
dan cita-cita siswa, sedangkan faktor eksternal dapat berupa guru, sarana dan
prasarana, kebijakan penilaian, lingkungan social, dan kurikulum sekolah”.
Karena rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V
SD khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial , maka dilaksanakan Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) denga judul: Penerapan Metode Diskusi Untuk Meningkatkan
Keaktifan dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa SD Kelas V. Metode ini mampu
meningkatkan kemungkinan berpikir kritis, partisipasi, demokratis,
mengembangkan sikap, motivasi, dan kemampuan berbicara. Dengan menerapkan
metode diskusi diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa
SD kelas V khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
tersebut di atas, maka penelitian ini difokuskan pada permasalahan pokok
sebagai berikut.
a.
Apakah
penerapan metode diskusi dapat meningkatkan keaktifan belajar Ilmu Pengetahuan
Sosial pada siswa kelas V SD?
b.
Apakah
penerapan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan
Sosial pada siswa kelas V SD?
C. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah
tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut.
a. Untuk mengetahui peningkatan
keaktifan belajar setelah penerapan metode diskusi, dan penggunaan media yang
tepat dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
b. Untuk mengetahui peningkatan hasil
belajar setelah penerapan metode diskusi, dan penggunaan media yang tepat dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
D. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoretis
Secara teoritis penelitian ini akan mengkaji metode
pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS
melalui metode diskusi. Dengan demikian temuan penelitian ini akan memperkaya
khasanah pengetahuan di bidang metode pembelajaran.
b. Manfaat Praktis
1)
Bagi Siswa
Dari penelitian ini siswa memperoleh pengalaman belajar yang
lebih bermakna, sehingga siswa menjadi lebih menguasai dan terampil dalam pembelajaran
pemecahan masalah dengan penerapan metode diskusi sehingga hasil belajar lebih
meningkat dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
2)
Bagi Guru
Informasi hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
informasi serta masuka berharga bagi para guru dalam melakukan berbagai upaya
untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dengan penerapan
metode diskusi, khususnya dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan mata
pelajaran lain pada umunya.
3)
Bagi Orang Tua Siswa
Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bahwa betapa
pentingnya perhatian orang tua dengan aktivitas dan prestasi belajar
putra-putrinya.
4)
Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi
berharga bagi kepala sekolah untuk mengambil suatu kebijakan yang paling tepat
dalam kaitan dengan upaya menyajikan strategi pembelajaran yang efektif dan
efesien di sekolah.
BAB II
LANDASAN
TEORI
A. Kajian Teoretis
1. Pengertian Metode Diskusi
Metode
diskusi merupakan suatu kegiatan dimana sejumlah orang membicarakan secara
bersama-sama melalui tukar pendapat tentang suatu topik atau masalah, atau
mencari jawaban dari suatu masalah berdasarkan semua fakta yang memungkinkan
untuk itu.
Menurut
(Depdikbud, 1999:14) metode diskusi adalah suatu metode untuk memupuk
keberanian anak didik untuk mengemukakan pendapat atau memberi kritikan
terhadap pendapat orang lain yang dikemukakan dalam suatu forum.
Dari
uraian tersebut di atas dapat didefinisikan metode diskusi adalah suatu kegiatan
belajar-mengajar yang membahas suatu topic atau masalah yang dilakukan oleh dua
orang atau lebih (dapat guru dan siswa atau siswa dan siswa lain).
Dapat
disimpulkan metode diskusi adalah suatu kegiatan belajar mengajar dalam bentuk
tukar pendapat dari pertanyaan-pertanyaan yang ada baik dari murid secara
individual atau secara kelompok maupun dari guru sehingga diperoleh suatu
kesepakatan bersama dari permasalahan yang dikaji.
Dalam
kegiatan diskusi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dan siswa agar
diskusi dapat dilaksanakan dengan efektif, selanjutnya disebut syarat-syarat
diskusi yaitu sebagai berikut.
1) Pembicaraan berlangsung dalam
kelompok, dan setiap kelompok ada peserta yang terlibat didalamnya.
2) Setiap peserta bebas mengeluarkan
pendapatnya, dalam komunikasi langsung tatap muka.
3) Ada aturan main yang disepakati
bersama untuk mengatur proses pembicaraan.
4) Harus ada tujuan dari diskusi
tersebut dan tidak boleh ada tekanan dari siapapun termasuk dari guru.
5) Harus ada pemimpin yang memimpin
jalannya diskusi agar tidak menyimpang dari topik yang dibahas.
2.
Tujuan Pemakaian Metode Diskusi
Secara rinci tujuan pemakaian metode
diskusi adalah sebagai berikut.
1) Mengembangkan keterampilan bertanya,
berkomunikasi,
menafsirkan, dan menyimpulkan pada diri siswa.
2) Mengembangkan sikap sportif terhadap
sekolah, para guru dan
bidang studi yang dipelajari.
3) Mengembangkan kemampuan memecahkan
masalah dan konsep diri
yang lebih positif.
4) Meningkatkan keberhasilan siswa
dalam mengemukakan pendapat.
5) Mengembangkan sikap terhadap isu-isu
controversial.
3.
Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi
Kelebihan dan kelemahan dari metode
diskusi adalah sebagai berikut.
1) Kelebihan Metode Diskusi
a) Metode ini memberikan kesempatan
kepada para siswa untuk
berpartisipasi secara langsung, baik sebagai partisipan,
ketua
kelompok, atau penyusun pertanyaan diskusi.
b) Metode ini dapat digunakan secara
mudah sebelum, selama, ataupun
sesudah metode
yang lain.
c) Metode ini mampu meningkatkan
kemungkinan berpikir kritis,
partisipasi, demokratis, mengembangkan sikap, motivasi, dan
kemampuan berbicara yang dilakukan tanpa persiapan.
d) Metode ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk
menguji,
mengubah dan mengembangkan, pandangan, nilai dan
keputusan
yang diperlihatkan kesalahannya melalui pengamatan
yang
cermat dan pertimbangan kelompok.
e) Metode ini memberikan kesempatan
kepada para siswa untuk
memahami kebutuhan memberi dan menerima, sehingga siswa
dapat mengerti dan mempersiapkan dirinya sebagai warga
Negara
yang demokratis.
f) Metode ini menguntungkan para siswa
yang lemah dalam
pemecahan masalah oleh kelompok, biasanya lebih tepat
daripada
pemecahan perorangan (Joni, 1984:105).
2) Kelemahan Metode Diskusi
a) Metode diskusi sulit diramalkan
hasilnya walaupun sudah diatur
secara
hati-hati.
b) Metode ini kurang efesien dalam
penggunaan waktu dan
memerlukan perangkat meja dan kursi yang mudah diatur.
c) Metode ini tidak menjamin
penyelesaian sekalipun kelompok setuju
dan membuat kesepakatan pada akhir pertemuan sebab keputusan
yang dicapai belum tentu dilaksanakan.
d) Metode ini seringkali didominasi oleh seorang atau beberapa orang
anggota diskusi dan menyebabkan orang yang tak berminat
hanya
sebagai penonton.
e) Metode ini membutuhkan kemampuan
berdiskusi dari para peserta
agar dapat berpartisipasi aktif dalam diskusi. Kemampuan ini
hanya dimiliki oleh seseorang bila dipelajari dan dilatih
(Joni,
1984:105).
4. Prosedur Pemakaian Metode Diskusi
Prosedur
pemakaian metode diskusi secara umum terbagi menjadi tiga tahapan. Pada
tiap-tiap tahapan pemakaian metode diskusi terdapat berbagai kegiatan yang
harus dilaksanakan oleh guru dan siswa. Adapun tiga tahapan dalam pemakaian
metode diskusi adalah sebagai berikut.
1) Tahapan Sebelum Pertemuan
a) Pemilihan topik diskusi, yakni suatu kegiatan yang
dimaksudkan
untuk menentukan topik diskusi untuk
melakukannya, guru dan
siswa menggunakan tujuan yang ingin
dicapai serta minat dan
latar belakang siswa sebagai
kriteria.
b) Membuat rancangan garis besar diskusi yang akan dilaksanakan
(jika
memungkinkan bagi guru).
c) Menentukan jenis diskusi yang akan dilaksanakan.
d) Mengorganisasikan siswa dan formasi kelas sesuai dengan
jenis
diksusinya.
2) Tahapan Selama Pertemuan
a) Guru memberikan penjelasan tentang
tujuan dari diskusi, topik
diskusi dan kegiatan diskusi yang akan dilakukan.
b) Siswa dan guru melaksanakan kegiatan
disksusi (sesuai jenis
diskusi yang digunakan).
c) Pelaporan dan penyimpulan hasil
diskusi oleh siswa bersama
guru.
d) Pencatatan hasil diskusi oleh siswa.
3)
Tahapan Setelah Pertemuan
a) Membuat catatan tentang
gagasan-gagasan yang belum
ditanggapi dan kesulitan yang timbul selama disksusi.
b) Mengevaluasi disksusi dari berbagai
dimensi dan
mengumpulkan evaluasi dari para siswa serta lembaran
komentar.
(Hidayat, 2008:7.20-7.23)
5.
Bentuk-Bentuk Diskusi
1) Diskusi Kelas, yaitu jenis diskusi
yang melibatkan seluruh siswa yang ada dalam kelas sebagai peserta diskusi.
Dalam hal ini guru berfungsi sebagai pengatur, pendorong dan pengarah
pembicaraan.
2) Dikusi Kuliah, yaitu terdiri dari
seorang pembicara, guru atau seorang anak berbicara dimuka kelas, mengemukakan
persoalannya selama 20-30 menit setelah itu dihadirkan pertanyaan-pertanyaan
tetapi hanya terbatas pada satu bentuk persoalan.
3) Diskusi kelompok kecil yaitu terdiri
dari 3-7 orang.
4) Simposium, yaitu hampir sama dengan
diskusi kuliah tetapi pada simposium terdapat beberapa orang yang berbicara
atau pengarah persoalan dan masalah yang ada ditinjau dari beberapa segi.
5) Diskusi panel yaitu terdiri dari 4
samapi 5 orang pembicara yang mengemukakan pertanyaan akan ditunjuk langsung.
Dari bentuk-bentuk diskusi tersebut
maka yang lebih ditekankan pada pembelajaran IPS di sekolah dasar adalah
diskusi kelas. Dengan bentuk diskusi kelas maka diharapkan guru berperan
sebagai pemimpin atau pengarah diskusi maka ada hal yang harus dipahami dan
harus dimiliki oleh guru yaitu sebagai berikut.
a) Menyiapkan dan menjelaskan topik
diskusi.
b) Mengatur pembicaraan agar semua
peserta terlibat dalam
diskusi.
c) Menjaga agar pembicaraan tetap
terfokus pada topik.
d) Mencegah distorsi atau penyimpangan pembicaraan dan
percakapan yang bertele-tele.
e) Mendorong siswa agar berani mengeluarkan
pendapat.
f) Membimbing siswa agar dapat
menguraikan pendapat rasional.
g) Memperjelas pendapat siswa agar
dimengerti oleh yang lain.
h) Mencegah dominasi pembicaraan oleh
satu atau dua orang
peserta.
(Hidayat, 2008:7.22-7.25)
B. Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
IPS
merupakan bidang studi yang utuh yang tidak terpisah-pisah dalam kotak-kotak
disiplin ilmu yang ada. Artinya bahwa bidang IPS tidak lagi mengenal adanya
pelajaran geografi, ekonomi, sejarah secara terpisah melainkan semua disiplin
tersebut diajarkan secara terpadu (Mujinem, 2008:6).
Agar
pelaksanaan pembelajaran IPS tersebut menjadi pembelajaran yang Aktif, Kreatif,
dan Menyenangkan (PAKEM), salah satu solusinya adalah pembelajaran dengan
metode diskusi.
Di
bawah ini beberapa hal penting yang berhubungan dengan IPS di SD, yaitu sebagai
berikut.
1.
Tujuan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
1) Mengenal konsep-konsep yang
berkaitan dengan kehidupan
masyarakat
dan lingkungannya.
2) Memiliki kemampuan dasar untuk
berpikir logis dan kritis, rasa
ingin
tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalalm kehidupan
sehari-hari.
3) Memiliki komitmen dan kesadaran
terhadap nilai-nilai sosial dan
kemanusiaan.
4) Memiliki kemampuan berkomunikasi,
bekerjasama dan berkompetisi
dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional,
dan global.
2
Ruang Lingkup IPS di Sekolah Dasar
1) Manusia, tempat dan lingkungannya.
2) Waktu, keberlanjutan dan perubahan.
3) Sistem sosial budaya.
4) Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
3.
Fungsi Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
IPS di Sekolah Dasar berfungsi mentransmisikan pengetahuan
dan pemahaman tentang masyarakat, berupa fakta-fakta dan ide-ide kepada anak,
selain itu juga mengembangkan rasa kontunuitas dan stabilitas, memberikan
informasi dan teknik-teknik sehingga mereka dapat ikut memajukan masyarakat
sekitar (Hidayat, 2008:24).
4.
Pendekatan dan Metode Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Beberapa pendekatan dan metode pembelajaran IPS adalah
sebagai berikut.
1)
Lingkungan
Kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan ini dapat
dimulai dari atau mencakup hal-hal atau petistiwa yang pernah dialami.
2)
Penemuan
Pendekatan ini mendorong dan mengarahkan siswa untuk
melibatkan diri secara aktif dalam proses belajar mengajar dengan melakukan
kegiatan belajar.
3)
Induktif-Deduktif
Pendekatan induktif, siswa menarik suatu kesimpulan dari
sejumlah fakta yang satu sama lainnya ada hubungannya yang diperoleh melalui
pengamatan atau cara lain. Sedang deduktif, menghadapkan siswa pada sesuatu
yang berlaku umum dan mengumpulkan berbagai fakta yang medukung pernyataan
tersebut.
4)
Nilai
Pendekatan ini dapat dikembangkan berbagai nilai seperti
nilai moral, nilai estetika, dan sebagainya (Hidayat, 2008:26).
5.
Alat Peraga atau Media IPS
Alat peraga atau media adalah sumber belajar yang harus
dikembangkan untuk tercapainya hasil belajar yang optimal. Hal ini seperti yang
dikatakan (Hidayat, 2008:123) “Dalam usaha meningkatkan kualitas proses
pembelajaran dan hasil pembelajaran, kita tidak boleh melupakan suatu hal yang
sudah pasti kebenarannya yaitu bahwa, pelajar sebanyak-banyaknya berinteraksi
dengan sumber belajar. Tanpa sumber belajar yang memadai sulit diharapkan dapat
diwujudkan proses pembelajaran mengarah kepada tercapainya hasil belajar yang
optimal”.
Atas dasar ini, beberapa alat peraga
atau media IPS sangatlah perlu diaplikasikan dalam setiap pelaksanaan
pembelajaran IPS di sekolah dasar. Adapun alat peraga atau media IPS dapat
digunakan adalah peta, atlas, globe, planetarium, solar sistem, gambar-gambar
(pahlawan, rumah adat) lingkungan sekitar, alat peraga buatan siswa atau guru
dan sebagainya.
C. Keaktifan Belajar
1. Pengertian
Keaktifan Belajar
Dalam
kemajuan metodologi dewasa ini asas keaktifan lebih ditonjolkan melalui suatu
program unit activity, sehingga kegiatan belajar siswa menjadi dasar
untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang lebih memadai (Hamalik, 2001:172).
Pendapat
lain menyatakan bahwa keaktifan belajar itu beraneka ragam bentuknya, mulai
dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah
kita amati. Kegiatan fisik bias berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih
keterampilan (Dimyati, 2006:45).
Bertolak
dari beberapa pendapat tentang keaktifan belajar di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa keaktifan belajar merupakan bentuk segala kegiatan yang
dilakukan siswa dalam proses pembelajaran, baik secara fisik maupun mental dan
kegiatan yang mudah diamati maupun sulit diamati.
2.
Ciri-Ciri Keaktifan Belajar
Dimyati,
(2006:48) mengemukakan pendapatnya bahwa terdapat lima cirri- ciri dalam
keaktifan belajar siswa yaitu sebagai berikut.
1) Keberanian siswa untuk mewujudkan
minat, keinginan, dan dorongan.
2) Keinginan dan keberanian siswa untuk
ikut serta dalam kegiatan belajar.
3) Adanya usaha dan kreativitas siswa.
4) Adanya keingin tahuan siswa.
5) Memiliki rasa lapang dan bebas.
3.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar
Menurut
pendapat Dimyati, (2006:33) “ada empat hal yang mempengaruhi keaktifan belajar
antara lain: 1) bahan belajar, 2) suasana belajar, 3) media dan sumber belajar,
4) guru sebagai subjek pembelajar”. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa adalah, ada dari luar siswa maupun
dari dalam diri siswa. Faktor internal itu terdiri atas, faktor fisiologis
psikologis sedangkan faktor eksternal terdiri atas faktor lingkungan (fisik dan
sosial) dan faktor instrumental (kurikulum, sarana prasarana, guru, metode,
media, serta manajemen).
D. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Di antara
para pakar pendidikan dan psikologi tidak memiliki definisi dan perumusan yang
sama mengenai pengertian hasil belajar. Namun di antara mereka memiliki
pemahaman yang sama mengenai makna hasil belajar sebagaimana yang dikemukakan
Dimyati dan Moedjiono, (2006:200) bahwa “hasil belajar merupakan hasil dari
suatu interaksi tindak mengajar atau tindak belajar”. Demikian pula dalam Kamus
Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa “Hasil belajar merupakan sesuatu yang
diadakan, dibuat, dijadikan oleh suatu atau dapat juga berarti pendapatan atau
perolehan”.
Hamalik,
(2001:34) menyebutkan ada 3 teori tentang hasil belajar yaitu: 1) Teori disiplin
formal yang menyatakan bahwa ingatan, sikap, imajinasi dapat diperkuat melalui
latihan akademis. 2) Teori unsur-unsur yang identik yaitu: siswa diberikan
respon-respon yang diharapkan diterapkan dalam situasi kehidupan. 3) Teori
generalisasi yaitu: menekankan pada pembentukan pengertian yang dihubungkan
pada pengalaman-pengalamannya.
Berdasarkan
pernyataan di atas, dalam konteks penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengalami interaksi proses
pembelajaran. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yaitu hasil belajar
yang dicapai oleh seseorang setelah mengalami proses pembelajaran mata
pelajaran IPS.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Hasil Belajar
Hamalik
(2001:32) menyebutkan “faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu
faktor pengalaman masa lampau, faktor kesiapan belajar, faktor minat dan usaha,
faktor fisiologis dan faktor intelegensi”.
Menurut
Uno Hamzah (2008:3) menyatakan bahwa “faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar adalah faktor guru, siswa, kurikulum dan lingkungan. Keempat faktor
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Faktor Guru
Setiap guru memiliki pola mengajar sendiri-sendiri, pola
mengajar tercermin dalam tingkah laku pada waktu melaksanakan pengajaran. Gaya
mengajar yang dilakukan guru mencerminkan bagaimana pelaksanaan pengajaran guru
yang bersangkutan, yang dipengaruhi oleh pandangannya sendiri tentang mengajar,
konsep, psikologi, dan kurikulum.
2) Faktor Siswa
Setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun
kepribadian, kecakapan, yang dimiliki masing-masing itu meliputi, kecakapan
potensial maupun kecakapan yang diperoleh dari hasil belajar.
3) Faktor Kurikulum
Bahan-bahan pengajaran sebagai isi kurikulum mengacu kepada
tujuan yang hendak dicapai.
4) Faktor Lingkungan
Lingkungan meliputi keadaan ruangan, tata ruang dan berbagai
situasi fisik yang ada disekitar kelas atau sekitar tempat berlangsungnya
proses belajar mengajar.
Berdasarkan berbagai pernyataan tersebut, ada beberapa
faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal tersebut terdiri atas, faktor fisiologis psikologis,
sedangkan faktor eksternal terdiri atas faktor lingkungan (fisik dan sosial)
dan faktor instrumental (kurikulum, sarana-prasarana, guru, metode, media serta
manajemen).
E. Kajian Hasil-Hasil Penelitian yang
Relevan
Berdasarkan hasil pengamatan keaktifan dan hasil belajar
siswa kelas V Sd No 5 Bondalem rendah, khusunya pada mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial dipengaruhi faktor eksternal. Guru tidak menggunakan metode
dan media pembelajaran yang sesuai dengan materi, sehingga sikap belajar,
motivasi belajar siswa, konsentrasi belajar, dan perolehan hasil belajar siswa
rendah.
Karena rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa kelas
V SD No 5 Bondalem, khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, maka
dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul: Penerapan Metode Diskusi untuk
Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS pada Siswa SD Kelas V SD No 5
Bondalem Tahun Ajaran 2009/2010 Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng. Metode
ini mampu meningkatkan kemungkinan berpikir kritis, partisipasi, demokratis,
mengembangkan sikap, motivasi, dan kemampuan berbicara. Dengan menerapkan
metode diskusi diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa
SD No 5 Bondalem khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahaun Sosial.
F. Kerangka Berpikir
Penerapan metode diskusi dalam
proses pembelajaran merupakan salah satu metode yang tidak terlalu mahal
dan tidak terlalu sulit diterapkan serta cukup efektif untuk mencapai tujuan
belajar.
Penerapan metode diskusi merupakan
sebuah metode yang dapat menggali potensi siswa untuk dapat berpikir kritis,
bebas mengembangkan gagasan-gagasannya serta memberi pengalaman langsung
sehingga perolehan belajar tidak bersifat verbal semata, melainkan mampu member
pengalaman yang bersifat konkret. Dengan demikian metode tersebut akan dapat
menguatkan ingatan siswa terhadap materi yang dipelajarinya. Bertitik tolak
dari kerangka berpikir demikian, maka dapat dinyatakan bahwa dengan penerapan
metode diskusi secara efektif, cenderung dapat meningkatkan keaktifan belajar
siswa dalam mata pelajaran IPS.
Penerapan metode diskusi menyebabkan
siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna dan lebih kuat melekat
dalam memori (pikiran) mereka, sehingga secara tidak langsung berdampak pula
terhadap perolehan atau hasil belajar siswa. Di samping itu dengan
diterapkannya metode ini akan membuat perhatian siswa tertarik dalam proses
belajar, karena siswa mengalami sendiri, dan terlibat aktif dalam proses
belajar sehingga akan mempermudah siswa tersebut memahami materi pelajaran IPS
yang dipelajarinya. Diterapkannya metode ini secara efektif dan efesien akan
dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS.
G. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan teori-teori dan kerangka
berpikir sebagaimana telah diuraikan di atas maka berikut ini dapat dijadikan
hipotesis yang dirumuskan sebagai berikut.
Jika penerapan metode diskusi dapat
berjalan dengan efektif dan efesien maka keaktifan belajar dan hasil belajar
siswa dalam pembelajaran Ilmu PEngetahuan Sosial cenderung meningkat.
H. Metode Penelitian
1. Subyek Penelitian
Subyek
dalam penelitian ini adalah siswa Kelas V SD yang berjumlah 35 orang. Siswa di
kelas ini dipilih sebagai subjek penelitian karena ditemukan
permasalahan-permasalahan yang ditemukan seperti yang telah dipaparkan pada
latar belakang.
Obyek
dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: a) keaktifan belajar siswa,
dan b) hasil belajar siswa, dan c) respon siswa terhadap proses
pembelajaran IPS dengan penerapan metode diskusi.
2. Instrumen Penelitian
Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif. Jumlah soal sebanyak
10 butir dan masing-masing diberi skor 1, esay sebanyak 5 butir, masing-masing
diberi skor 2. Selain itu menggunakan lembar observasi siswa untuk mengetahui
keaktifannya. Lembar observasi untuk siswa adalah sebagai berikut.
Lembar Observasi Siswa
|
No
|
Perhatian Siswa
|
Keberanian berpendapat
|
Menghargai Pendapat
|
Pelaksanaan Tugas
|
Keberanian Menjawab
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
Keterangan:
Aspek
1 : Perhatian siswa
Aspek
2 : Keberanian berpendapat
Aspek
3 : Menghargai
pendapat
Aspek
4 : Pelaksanaan
tugas
Aspek
5 : Keberanian
menjawab
Skor
Sangat
aktif : 5
Aktif : 4
Cukup
aktif : 3
Kurang
aktif : 2
Sangat
kurang aktif : 1
3. Teknik Analisis Data
Untuk mengumpulkan data diperlukan nilai siswa yang
diperoleh melalui penilaian proses dan hasil. Setelah data terkumpul, maka data
tersebut diolah dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan mencari
tingkat keaktifan, Mean (M), hasil belajar, dan ketuntasan belajar.
a.
Tingkat keaktifan dapat diperoleh dengan menghitung
rata-rata
persentase dan membandingkan dengan kriteria PAP skala lima.
M (%) =
Keterangan:
M (%) = Angka rata-rata persen
M = Angka rata-rata skor
siswa
Smi = Skor maksimal
ideal
(Agung, 1998:8)
PAP Skala 5 Keaktifan Belajar
|
Persentase
|
Kriteria
Keaktifan Belajar IPS
|
|
90 – 100
|
Sangat
aktif
|
|
80 – 89
|
Aktif
|
|
65 – 79
|
Cukup
aktif
|
|
55 – 64
|
Kurang
aktif
|
|
0 – 54
|
Sangat kurang
aktif
|
b. Dalam menilai hasil pembelajaran IPS
digunakan nilai dengan skala 0 – 100, nilai yang diperoleh siswa berdasarkan
lembar observasi dan hasil tes siswa.
Kriteria keberhasilan siswa adalah
sebagai berikut.
1) Menghitung rata-rata skor siswa
dengan mencari Mean (M) dengan rumus
(Nurkancana, 2002:174)
Keterangan:
M = Mean (rata-rata)
= Jumlah seluruh nilai
N = Jumlah individu
2) Untuk menentukan tingkat hasil
belajar siswa, digunakan rumus sebagai berikut.
Keterangan:
Rh
= Angka rata-rata persen
M
= Angka rata-rata
Smi
= Skor maksimal ideal
Sutrisno Hadi, (dalam Arbawa,
2000:12)
3) Menghitung ketuntasan belajar
mengacu pada buku pedoman
pelaksanaan kurikulum Sekolah Dasar (SD).
Ketuntasan Belajar
Keterangan:
KB
= Ketuntasan belajar
n ≥ 65 = Banyak
siswa yang memperoleh nilai 65 keatas
(Misal KKM IPS kelas V adalah 65)
N
= Jumlah siswa
(Departemen Pendidikan Nasional,
2002:15)
Hasil
analisis yang diperoleh selanjutnya dikonversikan dengan kriteria Penilaian
Acuan Patokan (PAP) skala lima.
Kriteria PAP skala 5
|
Persentase
|
Kriteria
Hasil Belajar
|
Kriteria
Keaktifan Belajar IPS
|
|
90 – 100
|
Sangat
tinggi
|
Sangat
aktif
|
|
80 – 89
|
Tinggi
|
Aktif
|
|
65 – 79
|
Sedang
|
Cukup
Aktif
|
|
55 – 64
|
Rendah
|
Kurang
aktif
|
|
0 – 54
|
Sangat
rendah
|
Sangat
kurang aktif
|
4. Rancangan Penelitian
Penelitian
ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) maka prosedur penelitian ini sesuai
dengan prosedur penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam suatu proses
berdaur/bersiklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi
dan refleksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Kemmis S. dan M.C. Tanggrat (dalam
Karniti 2002:15) yang menyatakan bahwa PTK adalah siklus refleksi diri yang
berbentuk spiral dalam rangka melakukan proses perbaikan terhadap kondisi yang
ada mencarikan solusi dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan dalam rangka
menemukan cara-cara baru yang lebih baik dan lebih efektif untuk mencapai hasil
yang lebih optimal.
Berdasarkan
analisis terhadap permasalahan yang ada, penelitian tindakan kelas ini
direncanakan terdiri dari 2 (dua) siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali
pertemuan dengan 4 (empat) fase, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan
tindakan, observasi tindakan dan refleksi terhadap tindakan yang telah
dilakukan pada setiap siklus. Namun demikian, keputusan untuk melanjutkan atau
menghentikan penelitian pada akhir siklus tertentu sepenuhnya bergantung pada
hasil yang dicapai pada siklus terakhir. Bila hasil yang dicapai telah memenuhi
kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan, maka penelitian dihentikan dan
apabila belum mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan, maka penelitian
dilanjutkan ke siklus berikutnya.
I. Perencanaan Siklus/Rencana Tindakan
Berdasarkan
temuan yang diperoleh. Disusun perencanaan perbaikan pembelajaran. Pada tahap
ini hal-hal yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut. 1) Perencanaan
perbaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), 2) Pengembangan materi, 3)
Menyiapkan media pembelajaran, 4) Menyusun instrumen penelitian.
J. Pelaksanaan siklus/Pelaksanaan
tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam
tahapan tindakan ini adalah sebagai berikut. 1) Menyiapkan salam dan mengecek
kehadiran siswa, 2) Memberikan apersepsi terkait dengan materi pelajaran, 3)
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kegiatan yang akan dilaksanakan, 4)
Memberi permasalahan yang akan di diskusikan masing-masing kelompok, 5)
Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil kerja
kelompoknya, 6) Memberikan kesempatan bertanya kepada siswa, 7) Memberikan
bimbingan kepada siswa, 8) Mengevaluasi proses dan hasil kegiatan diskusi
melalui lembar observasi, 9) Melaksanakan evaluasi akhir, 10) Bersama siswa
menyimpulkan pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan 11) Menutup pelajaran
dan memberikan tindak lanjut.
K.
Observasi dan Evaluasi
Observasi
dilakukan selama tindakan berlangsung dari awal sampai akhir. Observasi bertujuan
mengetahui kekurangan dan kelebihan yang terjadi selama tindakan. Kekurangan
dan kelebihan yang ditemukan bias dijadikan sebagai pedoman dalam tindakan
berikutnya agar tidak terjadi kesalahan yang sama. Evaluasi dilakukan setelah
tindakan berlangsung. Evaluasi bertujuan mengetahui nilai siswa berdasarkan
pedoman kriteria penilaian. Hasil yang diperoleh ini dapat dijadikan umpan
balik dalam menentukan rencana selanjutnya. Observasi dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut.
1) Mengamati keterampilan proses siswa
dalam melaksanakan
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
2) Memberikan tes untuk mengetahui
hasil belajar siswa.
L. Refleksi
Refleksi ini dilakukan untuk
merenungkan dan mengkaji hasil tindakan pada siklus I mengenai hasil belajar
IPS dan keaktifan belajar IPS. Hasil renungan dan kajian tindakan siklus I ini,
selanjutnya dipikirkan untuk dicari dan ditetapkan beberapa alternatif tindakan
baru yang diduga lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPS dan
keaktifan belajar dalam mata pelajaran IPS. Alternatif ini akan ditetapkan
menjadi tindakan baru pada rencana tindakan dalam penelitian tindakan siklus
II.
DAFTAR PUSTAKA
Agung,
A.A Gede. 1998. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Singaraja: STKIP
Singaraja.
Depdikbud.
1995. Metodik Khusus Pengajaran IPS di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud
Dimyati
dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud, Rineka
Cipta.
Hamalik
Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hidayat,
Mujinem, dkk. 2008. Pengembangan Pendidikan IPS di SD. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Joni.
1984. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.
Nurkancana,
Wayan dan P.P.N Sunartana. 2002. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha
Nasional.
Uno,
Hamzah. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi
Aksara.
selamat malam,
BalasHapusmas,saya bisa minta file word nya untuk materi ini.?
terima kasih
Bagus
BalasHapusBagus
BalasHapusBagus
BalasHapusmintak fail aslinya bang
BalasHapusBoleh minta file aslinya bang🙏
BalasHapus